Stress : Penyebab, Gejala dan Penanganan

Stres adalah reaksi tubuh yang muncul saat seseorang menghadapi ancaman, tekanan, atau suatu perubahan. Stres juga dapat terjadi karena situasi atau pikiran yang membuat seseorang merasa putus asa, gugup, marah, atau bersemangat.

Situasi tersebut akan memicu respon tubuh, baik secara fisik ataupun mental. Respon tubuh terhadap stres dapat berupa napas dan detak jantung menjadi cepat, otot menjadi kaku, dan tekanan darah meningkat.

Ketika merasa terancam, sistem saraf Anda merespon dengan melepaskan aliran hormon stres, antara lain hormon adrenalin dan kortisol. Kedua hormon ini dapat memunculkan suatu reaksi pada tubuh Anda, antara lain jantung berdebar cepat, otot tubuh menegang, tekanan darah meningkat, dan bahkan napas jadi lebih cepat. Reaksi ini disebut “fight-or-flight” alias respon stress.

Stres sering kali dipicu oleh tekanan batin, seperti masalah dalam keluarga, hubungan sosial, patah hati, cinta tak berbalas,  atau masalah keuangan. Selain itu, stres juga bisa dipicu oleh penyakit yang diderita. Memiliki anggota keluarga yang mudah mengalami stres, akan membuat orang tersebut juga lebih mudah mengalami stres.

Setiap orang, termasuk anak-anak, pernah mengalami stres. Kondisi ini tidak selalu membawa efek buruk dan umumnya hanya bersifat sementara. Stres akan berakhir saat kondisi yang menyebabkan tekanan atau frustasi tersebut dilewati.

Stres yang berkepanjangan dapat mengganggu kesehatan fisik serta melemahkan daya tahan tubuh. Selain itu, stres juga dapat menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan dan sistem reproduksi. Orang yang mengalami stres secara berkepanjangan biasanya juga akan mengalami gangguan tidur. Berikut mengenai stress, gejala, penyebab dan penanganan.

Gejala stress

Gejala yang muncul saat seseorang mengalami stres dapat berbeda-beda, tergantung penyebab dan cara menyikapinya. Gejala atau tanda stres dapat dibedakan menjadi:

  • Gejala emosi, misalnya mudah gusar, frustasi, suasana hati yang mudah berubah atau moody, sulit untuk menenangkan pikiran, rendah diri, serta merasa kesepian, tidak berguna, bingung, dan hilang kendali, hingga tampak bingung, menghindari orang lain, dan depresi.
  • Gejala fisik, seperti lemas, pusing, migrain, sakit kepala tegang, gangguan pencernaan (mual dan diare atau sembelit), nyeri otot, jantung berdebar, sering batuk pilek, gangguan tidur, hasrat seksual menurun, tubuh gemetar, telinga berdengung, kaki tangan terasa dingin dan berkeringat, atau mulut kering dan sulit menelan. Stress pada wanita juga dapat menimbulkan keluhan atau gangguan menstruasi.
  • Gejala kognitif, contohnya sering lupa, sulit memusatkan perhatian, pesimis, memiliki pandangan yang negatif, dan membuat keputusan yang tidak baik.
  • Gejala perilaku, misalnya tidak mau makan, menghindari tanggung jawab, serta menunjukkan sikap gugup seperti menggigit kuku atau berjalan bolak-balik, merokok, hingga mengonsumsi alkohol secara berlebihan.

 

Penyebab Stress

ituasi dan tekanan psikologis yang memicu munculnya stress dikenal sebagai stressor. Ada beberapa penyebab, yaitu alasan eksternal, alasan internal, dan stress pasca-trauma.

Penyebab eksternal, antara lain:

  • perubahan besar dalam hidup
  • sekolah atau pekerjaan
  • kesulitan dalam hubungan
  • masalah keuangan
  • terlalu sibuk
  • anak-anak dan keluarga

Contoh penyebab internal:

  • kesehatan Anda, terutama jika anda memiliki penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes atau artritis
  • masalah emosional seperti depresi, kesedihan, penyesalan atau rendah diri
  • omongan diri atau pikiran yang negatif
  • ekspektasi yang tidak realistis atau Anda perfeksionisme
  • pemikiran yang kaku, kurang santai, atau kurang bercanda tawa dengan teman

Penanganan Stress

Bila seseorang tidak dapat mengatasi stres dengan baik dan stres menjadi berkepanjangan, dianjurkan untuk berkonsultasi dengan psikiater. Terlebih bila stres dialami secara berulang hingga menyebabkan gejala fisik.

Melalui sesi konseling, psikiater akan mencari tahu pemicunya, agar dapat ditentukan penanganannya. Bila stres sudah memengaruhi kerja organ dalam, psikiater akan merekomendasikan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan laboratorium atau rekam jantung.

Setelah mengevaluasi masalah, kondisi mental, dan kondisi fisik pasien, psikiater akan menentukan tindakan penanganan yang sesuai. Fokus dari penanganan stres adalah untuk mengubah cara pandang dan respon penderita terhadap situasi yang menjadi penyebab stres.

Metode penanganan stres mencakup perubahan gaya hidup, teknik relaksasi, serta psikoterapi.

Perubahan gaya hidup tersebut meliputi:

  • Berolahraga secara teratur
  • Menerapkan pola makan gizi dan seimbang
  • Membatasi konsumsi kafein
  • Menghindari konsumsi alkohol dan NAPZA
  • Tidur yang cukup
  • Melakukan kegiatan yang menyenangkan hati.

Selain perubahan gaya hidup, upaya penanganan stres juga dapat dilakukan dengan melakukan teknik relaksasi yang dapat meredakan stres, misalnya meditasi, aromaterapi, atau yoga.

Dalam psikoterapi, psikiater akan mencoba untuk menanamkan kepada penderita untuk selalu memiliki pandangan yang positif dalam segala kondisi. Selain itu, psikiater akan meminta pasien membuat tujuan dalam hidupnya, dimulai dari tujuan yang mudah dicapai. Psikoterapi ini akan dilakukan dalam beberapa sesi. Demikian tentang stress, penyebab, gejala dan penanganan.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Kesehatan Lainnya

Inilah Cara Meningkatkan Kesuburan Pria

Inilah Cara Meningkatkan Kesuburan Pria

Jika Anda dan pasangan Anda merencanakan untuk memiliki bayi, Anda mungkin mencari informasi tentang bagaimana cara meningkatkan kesuburan untuk memperbesar kesempatan Anda mendapatkan sang buah hati. Jumlah dan kualitas sperma yang sehat diperlukan untuk kesuburan....

Mengenal Hormon Kortisol

Mengenal Hormon Kortisol

Hormon kortisol mungkin tidak banyak diketahui keberadaannya dibandingkan dengan hormon adrenalin. Nyatanya, kedua jenis hormon itu berkaitan satu sama lain dan memiliki fungsi yang tidak sedikit untuk tubuh berfungsi secara maksimal. Apa itu Hormon Kortisol ?...

Mengenal Paru Paru Basah dan Penanganan

Mengenal Paru Paru Basah dan Penanganan

Paru-paru basah adalah kondisi yang terjadi akibat peradangan pada salah satu atau kedua paru-paru. Paru-paru basah ini biasanya terjadi akibat infeksi pada paru-paru. Batuk terus menerus dan disertai demam, kadang bisa menjadi salah satu tanda atau gejala terkena...